Artis Simalungun

Profil LAMSER GIRSANG, Penyanyi dan Pencipta Lagu Simalungun

Profil LAMSER GIRSANG, Penyanyi dan Pencipta Lagu Simalungun

Sejak tahun delapan puluhan, Lamser Girsang sudah berkarir sebagai penyanyi. Ketika itu ia masih bernaung di bawah bendera Budilas Trio, salah satu trio Batak yang sempat meramaikan khazanah Pop Tapanuli. Lama bermukim di ibukota, lelaki berusia 44 tahun ini akhirnya ‘pulang kampung’, kembali ke Sumut. Coba-coba untuk bersolo karir, ternyata ia bisa mengharumkan namanya sendiri di blantika musik Simalungun. Siapa yang tak kenal lagu Sandiwara ? Lagu sendu mendayu yang bisa menggugah kenangan masa lalu ? Atau lagu Tolu Sahundulan yang acapkali terdengar di setiap acara pesta Simalungun dan Tapanuli ? Kemudian ada pula kisah nyatanya yang dikemas dalam sebuah lagu berjudul Iluh ni Niombah. Lagu yang disebut terakhir ini bisa mengundang haru bahkan mampu menguras air mata pendengar. Semua dinyanyikannya dengan penuh perasaan plus suara yang tidak diragukan lagi. Ia memang seniman serba bisa. Sebagai penyanyi…. oke, sebagai pencipta lagu pun…. mantap. Lagu-lagu di atas, semua hasil karyanya sendiri. Dan masih banyak karya ciptanya yang lain yang berhasil menjadi hits.

Tidak ingin disebut vacum, putra dari J. Girsang (+) dan D. br. Saragih kelahiran Bage, 10 Oktober 1963 ini menghadirkan karya terbarunya yang bertajuk Manombah Tondong. Ia berharap lagu ini bisa diterima masyarakat Simalungun sebagaimana lagu Tolu Sahundulan. “Saya sudah curahkan seluruh jiwa dan pikiran untuk lagu yang satu ini,” katanya. Memang benar. Jika disimak mulai dari penggunaan syair maupun misi lagu itu sendiri, secara keseluruhan cukup positif dan mendidik. Di sinilah salah satu kelebihan Lamser bila dibandingkan dengan pencipta lagu Simalungun yang lain. Penggunaan kata-kata baku dalam syair lagu menempatkannya di posisi lebih terhormat. Bandingkan dengan karya-karya baru yang banyak bermunculan akhir-akhir ini. Bahasa gaul yang juga disebut bahasa prokem banyak digunakan. Bukan saja bisa merusak bahasa, tapi juga lagunya hanya mampu bertahan di satu episode tertentu. Kata-kata yang terdapat pada lagu itu akhirnya jadi ketinggalan karena kata-kata baru akan tetap muncul mengikuti zamannya.

Simalungun boleh berbangga karena memiliki seniman yang tangguh. Ratusan lagu berhasil diciptakan suami dari Herida br. Silalahi (+) / S. br. Sitepu ini. Semua itu, ia persembahkan untuk daerahnya tercinta, Simalungun. Ia telah mencatatkan namanya di setiap sanubari pecinta musik Simalungun. Kelak ia tiada, nama itu akan tetap tinggal dan dikenang sebagai lambang prestasi putra Simalungun. Dan salah satu kepiawaian bapak dari Nada Fernandes, Lola Monika, Ruth, dan Naima ini adalah mampu mencipta lagu Tapanuli yang sudah dipopulerkan oleh Trio Santana. Ini juga menunjukkan bahwa dirinya bukan hanya ‘jago kandang’. Tetapi ada satu yang menjadi ganjalan di hati pria berwajah melankolis ini, yaitu minat masyarakat Simalungun untuk membeli kaset lagu daerahnya sendiri sangat kurang. Sebaliknya banyak orang Simalungun yang rajin membeli kaset lagu Tapanuli. Seandainya 10% saja dari jumlah etnis Simalungun mau membeli, para seniman Simangun pasti tambah semangat dalam berkarya.

Memang benar. Dukungan masyarakat juga sangat dibutuhkan, demi kelangsungan budaya itu sendiri. Coba bandingkan, betapa jauhnya perbedaan antara artis Simalungun dengan artis daerah lain. Dan betapa maraknya lagu-lagu daerah lain di kancah permusikan negeri ini. Kenapa itu bisa terjadi ? Semuanya terpulang pada diri kita masing-masing sebagai warga Simalungun. ( C A )

sumber :
Majalah Sauhur
Edisi 2 , Oktober 2007
Oleh : Corry Aritonang

 

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top