Budaya

Makna dan Sejarah Tortor Huda Huda Simalungun

makna dan sejarah tortor huda huda

Makna Tortor Huda-Huda/Toping-Toping

Pada masyarakat Simalungun dikenal suatu jenis Tari Topeng yang dipertunjukkan pada upacara kematian usia lanjut, yang disebut huda-huda/toping-toping. Masyarakat Simalungun mengenal kedua nama tersebut.Tari ini  dipertunjukkan pada upacara kematian usia lanjut (namatei sayurmatua).

Mereka menyebutnya huda-huda didasari oleh beberapa hal, antara lain:
Salah seorang dari pemainnya mempunyai bentuk dan ekor yang panjang, mirip seekor kuda (dalam bahasa Simalungun disebut huda).

Musik (gual) sebagai pengiring huda-huda disebut gual huda-huda, yaitu suatu jenis repertoar lagu yang ditabuh menggunakan seperangkat alat musik tradisional yang disebut gonrangsidua-dua.

Langkah atau gerakan kaki disebut lakkah huda-huda. Gerak badan penari pun mirip gerak seekor kuda. Oleh karena langkah dan gerak penari mirip gerak seekor kuda, maka tari ini disebut tari huda-huda..

Jika ada seseorang yang meninggal dunia usia lanjut, maka orang cenderung menyebut: “Sonaha…i huda-hudai do namatei sayurmatua ai?” (Artinya: apakah dimainkan huda-huda terhadap yang meninggal dunia usia lanjut tersebut?) Mereka tidak pernah menyebutnya: Sonaha…i toping-toping do namatei sayurmatua ai?” (Artinya: apakah dimainkan topingtoping terhadap yang meninggal dunia usia lanjut tersebut?)

Jadi, mereka menyebutnya huda-huda karena huda-huda memainkan peranan yang penting. Berdasarkan hal-hal di atas, maka masyarakat Simalungun menyebut Tari Topeng hudahuda.

Pada pihak lain, mereka menyebutnya toping-toping. Adapun alasan mereka karena dua dari tiga orang pemainnya menggunakan topeng sebagai penutup mukanya, yang terdiri dari topeng berparas laki-laki dan berparas perempuan. Kedua penari topeng ini membawakan peran yang lucu sesuai dengan paras topengnya. Jika tarian ini dipertunjukkan, maka pemain topeng merupakan idola penonton yang mampu membuat orang tertawa. Karena para pemain menggunakan topeng (bahasa Simalungun: toping) sebagai penutup mukanya, maka masyarakat

Simalungun menyebutnya toping-toping. Hal ini sejalan dengan pendapat Bandem (1976:1), bahwa topeng merupakan suatu benda penutup muka. Di sini maksud “tutup” yang dipakai adalah untuk menutupi muka manusia.

Pemain topeng tersebut tidak sekadar menutup mukanya, tetapi juga disertai dengan gerak, dan gerak tersebut harus pula seirama dengan musik pengiringnya. Dengan ungkapan melalui gerak ini, maka disebut tari, yaitu ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan dengan gerakgerak ritmis yang indah (Soedarsono, 1978:3). Sehingga dapat disimpulkan bahwa tari yang menggunakan topeng sebagai penutup mukanya dan disertai dengan berbagai bentuk gerak yang diiringi musik dan dipertunjukkan, maka tari seperti ini disebut Tari Topeng.

Kedua nama tersebut merupakan nama yang umum dikenal oleh masyarakat Simalungun. Oleh karena itu dalam penyebutan namanya, saya tidak memisahkan atau membedakan kedua nama tersebut, tapi menggunakan keduanya yang ditulis sekaligus, dan memberikan garis miring untuk menyatakan bahwa kedua nama itu dikenal oleh masyarakat Simalungun.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa huda-huda/toping-toping adalah salah satu jenis tarian Simalungun yang menggunakan topeng atau sejenisnya, dan penutup badan lainnya yang dipergunakan pada upacara kematian usia lanjut.

Asal Usul Sejarah Tortor Huda-Huda/Toping-Toping
Jika ditanyakan asal-usul huda-huda/toping-toping kepada masyarakat Simalungun, maka mereka menceritakan dengan versi yang berbeda-beda tetapi berasal dari suatu kisah kematian seorang putra raja.

Di bawah ini dikemukakan kisah terjadinya huda-huda/toping-toping sebagai berikut:

Mulanya, terjadi musibah yang menimpa suatu keluarga kerajaan. Satu-satunya anak raja meninggal dunia dan permaisuri pun merasa sedih. Permaisuri tidak merelakan anaknya dikebumikan. Setelah beberapa hari ditunggu-tunggu, permaisuri tetap tidak mau melepaskan anaknya dari pangkuannya.
Mendengar pengumuman raja, maka parpongkalan nabolon (sekelompok orang yang berkumpul pada suatu tempat pertemuan, biasanya barbincangbincang),
memikirkan suatu cara untuk membujuk sang permaisuri sekaligus menghibur hati yang duka. Maka mereka menciptakan gerakan-gerakan yang lucu dan menutup mukanya dengan paruh burung enggang, dan yang lainnya membuat topeng seperti monyet. Teman-teman yang lain membuat suara/bunyi-bunyian untuk mengiringi gerak-gerak yang lucu. Raja pun turun ke bawah melihat gerak tari yang ditampilkan. Ia merasa tertarik dan turut terhibur.

Melihat dan mendengar kejadian yang ada di halaman istana, permaisuri merasa tertarik dan ia pun turun ke bawah melihat dari dekat pertunjukan tadi. Melihat pertunjukan ini, sang permaisuri terlena dan lupa terhadap anaknya yang meninggal dunia tadi. Pada kesempatan inilah sang raja memerintahkan supaya putranya yang meninggal dunia dikebumikan dengan segera.

Sejak itu jika ada keluarga kerajaan yang meninggal dunia, maka parpongkalan nabolon membuat suatu pertunjukan yang lucu untuk menghibur keluarga yang berduka (diceritakan oleh Sadin Purba, desa Simbolon, Kecamatan Panei, Kab. Simalungun).

Dari kisah yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa awal diciptakannya huda-huda/toping-toping adalah untuk menghibur keluarga kerajaan yang sedang berduka karena seorang putranya meninggal dunia. Dalam proses penciptaan ini, rakyatlah yang ambil bagian dan mereka pulalah yang menghibur keluarga kerajaan.

Perkembangan Huda-Huda/Toping-Toping
Pada mulanya, huda-huda/toping-toping ditampilkan jika ada anggota keluarga yang meninggal dunia. Batas umur tidak menjadi permasalahan. Jadi, jika ada keluarga kerajaan yang meninggal dunia, masih anak-anak, dewasa maupun telah lanjut usia, diadakanlah upacara kematian dengan menampilkan huda-huda/toping-toping untuk menghibur keluarga kerajaan yang sedang berduka.

Pada masa jaya kerajaan Simalungun terjadi pembatasan penggunaannya, yaitu khusus digunakan pada upacara kematian sayurmatua. Dan merupakan suatu kebanggaan bagi keluarga kerajaan jika memiliki seperangkat pemain huda-huda/toping-toping.

Setelah Indonesia merdeka, bekas kerajaan-kerajaan yang ada di Simalungun dijadikan satu wilayah pemerintahan yang dipimpin oleh seorang bupati, dan sekarang yang termasuk bekas wilayah kerajaan Simalungun tersebut dijadikan Kabupaten Simalungun.

Setelah kemerdekaan bangsa Indonesia, pada masyarakat Simalungun tidak ada lagi perbedaan antara kaum bangsawan dan rakyat biasa. Oleh karena itu, huda-huda/toping-toping sudah menjadi milik rakyat. Siapa saja orang Simalungun yang meninggal dunia usia lanjut boleh mempertunjukkan huda-huda/toping-toping. Memang pada masa jayanya kerajaan Simalungun dulu, huda-huda/toping-toping dipergunakan oleh keluarga perwakilan raja yang disebut partuanon dan parbapaan.

Pada saat ini, huda-huda/toping-toping sudah dapat digunakan oleh masyarakat Simalungun terhadap orang yang meninggal dunia usia lanjut dari lapisan mana saja. Dan yang penting, keluarga yang ditinggalkan mampu membiayai upacara tersebut.

Yang menjadi kendala sekarang, tidak banyak lagi ditemui pemain huda-huda/toping-toping, dan sudah jarang sekali huda-huda/toping-toping dipertunjukkan pada upacara kematian usia lanjut oleh masyarakat Simalungun.

Penggunaan dan Fungsi Huda-Huda/Toping-Toping

Melihat perkembangannya, huda-huda/toping-toping digunakan untuk menghibur keluarga kerajaan karena seorang anggota keluarga meninggal dunia. Kemudian penggunaan huda-huda/toping-toping berkembang dan mengalami perubahan. Mulanya tidak ada pembatasan umur kematian seseorang, dan hanya boleh digunakan pada jenis kematian yang telah usia lanjut.

Pada masa jaya kerajaan di Simalungun, huda-huda/toping-toping digunakan pada saat:
Mangiliki, yaitu suatu acara dalam upacara kematian seseorang usia lanjut untuk menyambut para pelayat. Huda-huda/toping-toping menghibur keluarga yang berduka dan menghibur para pelayat.
Mangongkal holi-holi, yaitu suatu upacara pemindahan tulang belulang seseorang yang telah meninggal dunia usia lanjut.
Manurun, yaitu suatu acara untuk menguburkan seseorang yang meninggal dunia, namun upacara penguburan lama berselang sesudah orang tersebut meninggal dunia. Biasanya dilakukan terhadap orang yang meninggal dunia usia lanjut.

Setelah kemerdekaan Indonesia, penggunaan huda-huda/toping-toping mengalami perubahan dan dibatasi berdasarkan jenis kematian seseorang. Jenis-jenis kematian usia lanjut yang dikenal pada masyarakat Simalungun ada tiga:
namatei sayurmatuah, yaitu seseorang yang meninggal dunia dalam usia lanjut, mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan. Telah pula mempunyai cucu dari anak laki-laki dan dari anak perempuan, serta tidak ada lagi anaknya yang belum berkeluarga.
namatei sayurmatua, yaitu seseorang yang meninggal dunia dalam usia lanjut, mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan, namum masih ada yang belum berumah tangga.
namatei matua, yaitu seseorang yang meninggal dunia dalam usia lanjut, telah mempunyai cucu, namun masih ada anaknya yang belum berumah tangga.

Dari ketiga jenis kematian usia lanjut tersebut, yang diperbolehkan mengadakan acara mandingguri/mangiliki adalah jenis kematian namatei sayurmatuah. Pada sayurmatuah, dapat disebut bahwa seseorang itu telah mendapat berkat yang cukup. Biasanya, sebelum meninggal dunia ia telah memesan tempat di mana ia akan dikebumikan.

Pada masa sekarang, penggunaan huda-huda/toping-toping tidak hanya untuk kematian sayurmatuah, tetapi juga untuk jenis kematian sayurmatua. Memang pada saat sekarang ada masyarakat Simalungun yang tidak perlu membedakan jenis kematian tersebut, yang penting seseorang yang meninggal dunia itu telah berusia lanjut dan telah pula mempunyai cucu. Sehingga untuk jenis kematian sayurmatuah dan kematian sayurmatua cukup disebut namatei sayurmatua.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penggunaan huda-huda/toping-toping pada saat sekarang adalah sebagai berikut:

1. pada upacara kematian namatei sayurmatuah
2. pada upacara kematian namatei sayurmatua
3. pada upacara mengongkal holi-holi

Ada P. Merriam (1964:219-226) menyebutkan, sedikitnya ada 10 macam fungsi musik, antara lain:
– fungsi pengungkapan emosional
– fungsi penghayatan estetis
– fungsi hiburan
– fungsi komunikasi
– fungsi perlambang
– fungsi reaksi jasmani
– fungsi yang berkaitan dengan norma-norma sosial
– fungsi pengesahan lembaga sosial dan upacara agama
– fungsi kesinambungan kebudayaan
– fungsi pengintegrasian masyarakat

Walau tulisan ini membahas Tari Topeng Simalungun, namun dalam mengkaji fungsinyasaya bertitik tolak dari fungsi musik yang dikemukakan oleh Merriam. Huda-huda/toping-toping tidak pernah dimainkan berdiri sendiri tanpa diiringi musik. Karena itu, tari dan musik pengiring huda-huda/toping-toping merupakan dwi tunggal yang tidak bisa dipisahkan. Oleh karena itu, dalam pembahasan fungsi, keduanya berkaitan erat dan dijadikan satu dalam pembahasannya. Jika melihat pertunjukan huda-huda/toping-toping dan memperhatikan asal-usul pencipataannya, maka fungsi utamanya adalah sebagai hiburan.

Menurut pandangan masyarakat Simalungun, kematian usia lanjut (namatei sayurmatuah) adalah suatu kematian yang orang-orang tidak lagi perlu berduka. Kematian seperti ini dapat dikatakan suatu kematian yang telah mendapat berkat dan sampai kepada cita-cita.

Oleh karena itu, setiap orang menginginkan agar seseorang itu sayurmatuah, artinya hidup lama dan keturunannya mendapat hidup yang baik. Pada jenis kematian inilah biasanya diadakan acara mandingguri dan mangiliki, ditandai penabuhan musik tradisonal Simalungun.

Acara mandingguri ditandai dengan menabuh seperangkat gonrang sipitu-pitu. Para keluarga yang berduka menari bersama-sama di hadapan jenazah dan acara ini dilakukan pada malam hari.

Acara mangiliki ditandai dengan menabuh seperangkat gonrang sidua-dua dan dilaksanakan pada siang hari. Pada saat inilah dimainkan huda-huda/toping-toping untuk menghibur keluarga yang berduka, sekaligus menghibur para pelayat. Para pemain topeng melakonkan gerak-gerak yang lucu, sehingga para pelayat tertawa, walaupun pada saat itu adaorang yang meninggal dunia.

Pertunjukan huda-huda/toping-toping memiliki kemampuan untuk membangkitkan emosi para pelayat, sehingga mereka dengan spontan memberikan sejumlah uang kepada penari topeng. Di sinilah terlihat bahwa huda-huda/toping-toping dapat berfungsi sebagai pengungkapan emosional para penonton.

Pada bagian lain, pemain huda-huda/toping-toping datang menjenguk keluarga yang berduka. Melalui gerak dan isyarat yang dipertunjukkannya, ia berkomunikasi dengan keluarga yang berduka agar tidak perlu menangisi dan tidak usah lagi berduka.

Para pemain topeng dengan sengaja pula berjalan-jalan di sekitar kampung tempat acara itu berlangsung. Mereka berjalan-jalan dan kadang kala mereka meminta sesuatu kepada penduduk kampung. Dengan munculnya topeng di tengah-tengah kampung, maka mereka memiliki fungsi komunikasi untuk menyampaikan berita bahwa di kampung itu ada acara mangiliki.

Fungsi estetis dapat terlihat pada saat huda-huda/toping-toping menyambut para pelayat yang datang. Mereka menampilkan gerak-gerak yang indah yang memiliki nilai estetis. Jika para pelayat juga membawa serombongan huda-huda/toping-toping, maka mereka bertanding menyuguhkan kebolehannya yang dapat dirasakan keindahannya oleh para pelayat.

Musik Pengiring Huda-Huda/Toping-Toping

Musik pengiring huda-huda/toping-toping ini adalah seperangkat gonrang sidua-dua yang terdiri dari: satu buah sarunai bolon (serunai, aerofon), dua buah gonrang (gendang, membranofon), dua buah mongmongan (sejenis gong ukuran kecil, idiofon) dan dua buah ogung (gong ukuran besar, idiofon).

Pemain seperangkat gonrang sidua-dua terdiri dari lima orang, yaitu: satu sebagai peniup sarunei bolon, dua orang sebagai penabuh gendang, satu orang penabuh mongmongan, dan satu orang penabuh ogung.

Gual (repertoar) yang ditampilkan dalam mengiringi huda-huda/toping-toping adalah sebagai berikut:
Gual khusus untuk mengiringi huda-huda/toping-toping , yaitu gual huda-huda.
Gual tambahan untuk mengiringi huda-huda/toping-toping antara lain: gual parahot, gual rambing-rambing, gual imbo manibung, gual sombuh atei ni hudan, dll.

Bentuk dan Pakaian Huda-Huda/Toping-Toping
Parhuda-huda-huda/toping-toping (pemain huda-huda) menutup badannya dengan kain. Bagian tengah berbentuk bulat yang terbuat dari rotan. Penutup badan huda-huda berwarna putih pada bagian atas, merah pada bagian tengah, dan hitam pada bagian bawah. Sebagai paruhnya terbuat dari paruh burung enggang, biasanya burung enggang jantan. Hal ini dapat diketahui apabila paruhnya berukuran besar. Sebaliknya, jika berparuh kecil maka burung itu adalah betina.

Pemilihan warna pakaian disesuaikan dengan warna yang terdapat pada masyarakat Simalungun yang terdiri dari tiga warna, yaitu putih, merah, hitam.

Pemain topeng yang berparas laki-laki menampilkan pakaian polang-polang, yaitu suatu pakaian khusus berwarna putih, merah dan hitam. Topengnya dibentuk sedemikian rupa sehingga mirip seperti paras seorang laki-laki. Rambutnya terbuat dari ijuk dan bahan topeng terbuat dari kayu ingul kayu kemiri.

Pemain topeng yang berparas wanita dilakonkan oleh seorang laki-laki, buka dilakonkan wanita. Oleh karena itu, pemainnya dirias seperti layaknya seorang wanita, dan pakaiannya juga pakaian wanita. Gerak tari yang ditampilkan juga gerak tari wanita (terdapat perbedaan gerak tari laki-laki dan gerak tari wanita).

Jalannya Pertunjukan Huda-Huda/Toping-Toping

Pertunjukan huda-huda/toping-toping dilaksanakan pada acara mangiliki yang merupakan bagian dari upacara kematian usia lanjut.

Sebelum pertunjukan dimulai, pihak yang berduka memberikan sirih kepada panggual (pemain musik). Kemudian dilanjutkan kepada pemain huda-huda/toping-toping. Tujuan pemberian sirih ini, agar para penabuh dengan rela dan ikhlas menabuh gendang, dan para penari topeng dapat menampilkan pertunjukan dengan baik serta jauh dari marabahaya.

Kemudian para pemain memakai huda-huda dan topengnya pada suatu tempat yang disebut parsalinan, yaitu suatu tempat khusus bagi pemain untuk memasang dan mengganti topeng.

Sebelum pemain huda-huda/toping-toping memegang topengnya, mereka terlebih dahulu memberikan ucapan pamit kepada huda-huda dan topengnya. Tujuannya agar para
pemain mendapat restu dan jauh dari marabahaya.

Pemain huda-huda/toping-toping mulai menunjukkan kebolehannya. Pada saat inilah pemain huda-huda dan pemain topeng menjenguk keluarga yang berduka untuk dihibur dengan gerak isyarat yang bermakna tidak perlu berduka.

Sebelum acara mangiliki dimulai, pemain huda-huda/toping-toping memberikan hiburan kepada pelayat yang diadakan di halaman rumah. Mereka menampilkan gerak-gerak yang lucu.

Para pemain topeng bebas membuat gerak dan tingkah laku, sehingga para penonton tergugah untuk memberikan sesuatu untuk pemain topeng. Dan terkadang pemain topeng keluar dari tempat rumah duka, berjalan-jalan mengelilingi kampung dan mengambil telur ayam untuk dimakannya sendiri. Pemilik telur tidak memarahinya dan tidak menuduh pemain topeng sebagai pencuri.

Setelah sampai kepada acara mangiliki, huda-huda/toping-toping menyambut kedatangan tamu yang hendak melayat. Jika tamu tersebut membawa serombongan hudahuda/toping-toping, maka dari kejauhan para tamu menampilkan huda-hudanya pula dan langsung disambut oleh pihak keluarga yang berduka dengan huda-huda pula.

Setelah acara mangiliki selesai, dilanjutkan dengan acara penguburan. Pemain hudahuda/toping-toping turut mengantarkan jenazah ke perkuburan, berikut menampilkan gerakgerak sesuai dengan geraknya masing-masing. Setelah jenazah dikebumikan, maka pemain hudahuda/toping-toping meninggalkan peralatan huda-huda/toping-toping tersebut di perkuburan.

Mereka melarikan diri dan pergi ke sungai untuk mandi. Setelah mandi, mereka pulang ke kampung untuk mendapatkan nitak (makanan yang terbuat dari beras yang dicampur gula, tanpa dimasak). Dan pihak keluarga yang berduka membawa peralatan huda-huda/toping-toping tadi ke rumah, begitu juga alat-alat musik lainnya.

 

Berbagai Sumber

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top